Senin, 23 November 2015

Pesona Cinta



“Demi yang jiwaku berada di genggaman-Nya”, sabda Rasulullah SAW ketika itu, “kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Dan kalian tidak akan beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukan satu hal yang jika kalian lakukan maka kalian akan saling mencintai. Sebarkan salam di antara kalian” (h.r Muslim, dari Abu Hurairah).

At tahaabbu fillaah. Saling mencintai karena Allah. Adalah bukti sejatinya iman seseorang. Terlihat dari hadits itu perkataan Rasulullah SAW, “dan kalian tidak akan beriman hingga kalian saling mencintai.” Iman menuntut adanya cinta. Iman tidak hanya sebatas ritual; syahadat, sholat, puasa, zakat dan haji. Tapi iman lebih luas dari itu. Iman adalah cinta. Iman adalah kasih sayang. Iman juga adalah persaudaraan. Tidak cinta berarti tidak sempurna iman. Tidak berkasih sayang berarti iman belum terpahami. Begitu juga dengan persaudaraan. Ia merupakan bukti hadirnya iman dalam dada.
عَنْ أَبِيْ حَمْزَةَ أَنَسِ بْنِ مَالِكِ رضي الله عنه خَدِمِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Tidaklah beriman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya (h.r Bukhari & Muslim)

Cinta kepada sesama layaknya cinta kepada diri sendiri. Tidak menyakiti sebagaimana kita tidak mau disakiti. Menolong sebagaimana kita ingin ditolong. Memperlakukan orang lain dengan baik sebagaimana kita ingin diperlakukan dengan baik. Itulah makna yang layak ditebar. Itulah makna cinta itu. Menggema saat pesonanya tertebar. Menggelegar mengguncang relung-relung jiwa. Melembutkan hati yang membatu. Itulah cinta. Sebagai bumbu dalam hubungan antar sesama. Sebagai bukti iman dalam dada.
Wahai jiwa perindu surga. Tebarlah pesona cinta di bumi, maka mimbar cahaya di surga kelak akan jadi milikmu. Dan dirimu akan menyaksikan para nabi dan para syuhada iri dengan mimbar-mimbar itu.
Wahai para penebar cinta itu, simaklah tutur Baginda kita, Rasulullah SAW yang diceritakan oleh Imam Tirmidzi,
قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ : اَلْمُتَحَابُّوْنَ فِي جَلَالِي لَهُمْ مَنَابِرُ مِنْ نُوْرٍ يَغْبِتُهُمُ النَّبِيُّوْنَ وَالشُّهَدَاءُ
Allah Azza Wa Jalla berfirman, “Orang-orang yang saling mencintai karena Aku bagi mereka mimbar-mimbar dari cahaya, para nabi dan syuhada iri kepada mereka.” (h.r Tirmidzi dari Mu’adz bin Jabal)

Lihatlah mimbar-mimbar cahaya itu. Para nabi ingin mendapatkannya. Para syuhada pun demikian. Itulah cinta mereka. Cinta karena Allah. Mereka bertemu saling sapa. Mereka bersua saling salam. Itulah bumbu cinta yang tersebarkan. Dengan bumbu itu cinta terasa sedap. Kalaupun mereka berpisah tetaplah karena Allah tujuannya. Berjauhan namun untaian kata-kata cinta dalam doa terlantunkan. Saat itulah sang utusan dari langit berseru, “dan bagimu juga sesuai apa yang kau pinta untuknya.” Itulah doa yang terucap meski berjauhan.

إِنَّ دَعْوَةَ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ مُسْتَجَابَةٌ لِأَخِيْهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ، كُلَّمَا دَعَا لِإَخِيْهِ بِخَيْرٍ قَالَ: آمِيْن، وَلَكَ بِمِثْلٍ
Sungguh doa seseorang kepada saudaranya tanpa sepengetahuannya itu mustajab, di atas kepalanya ada malaikat, setiap kali dia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, (malaikat itu) berkata: Amin, dan bagimu seperti apa yang kamu minta (h.r Bukhari, dari Shafwan bin Abdullah bin Shafwan).

Sabtu, 21 November 2015

Rintihan Sang Pendosa



Jiwa ini merintih. Melenguh. 
Mencari titik air di padang tandus kehidupan. 
Jiwa ini kering. Jauh dari sentuhan iman.
Mati tertutup. Dibalut gelapnya dosa. 
Menghitam. Tak mampu memancarkan cahaya. 
Imanku telah mati. Aku tidak mampu bertahan dari dosa-dosa.
Bermalam dengan iman, pagi harinya kafir. 
Atau pagi hari beriman, sorenya kafir lagi. 
Begitu seterusnya. Terombang-ambing dalam iman dan maksiat.
Ya Allah, berikan petunjukmu.
Tetapkan hati ini di jalan ketaatan-Mu.

Jumat, 20 November 2015

Akibat Maksiat



Akhy….
Masih ingatkah antum dengan kisah yang memilukan itu?
Kisah dimana nenek moyang kita, Adam dan Hawa dikeluarkan dari surga, dari tempat yang penuh nikmat?
Masih ingatkah antum tentang penyebabnya? 
Ana yakin bahwa antum pasti tahu penyebabnya.
Karena maksiatlah mereka dikeluarkan dari kenikmatan abadi itu.

Juga  masih ingat dengan jelas saat iblis dikeluarkan dari kerajaan surga
Itu karena maksiat juga
Mereka tidak mau bersujud kepada makhluk yang hina ini
Itulah maksiatnya, kesombongan terhadap perintah tuhan

Dan masih banyak lagi kisah yg memilukan itu
Kehancuran umat terdahulu
 masih terngiang dalam ingatan bahwa maksiat jugalah penyebab kehancuran itu

lalu bangaimana dengan maksiat kita, keluarga kita, bangsa dan Negara kita
tidakkah kekhawatiran meliputi jiwamu saat matamu dengan takjub memandang maksiat itu
dan tak sedikitpun terbetik dalam hatimu untuk membendungnya.

Tidak cintakah antum dengan dirimu sendiri?
Engkau biarkan jiwamu itu terkatung-katung dalam maksiat.

Tidak cintakah dirimu kepada keluargamu?
Engkau biarkan mereka dalam genangan lumpur dosa dan maksiat

Lalu bangsa dan negaramu engkau taruh dimana?
Padahal punggungmu sebagai lambang tanggung jawab terhadapnya.
Karena engkau generasi yang selalu dinantikan karyanya.
Engkau adalah generasi perubah, saat semua orang terbaring tak berdaya
Engkau adalah pewarna dalam kertas putih kehidupan generasi itu
Bersiaplah untuk menerima, saat tongkat estafet itu diserahkan
Karena saat itulah peran penting berada di tanganmu, bukan pada orang lain

Jika bukan engkau, siapa lagi yang akan menyelamatkan bangsa ini dari kehancuran
Sebagaimana bangsa-bangsa terdahulu juga dihancurkan karena maksiat itu.

 

Tiga Benteng




Allah swt. Telah memberitakan melalui lisan para ahli ilmu di zaman Qarun, bahwa ada hal-hal yang dapat membentengi diri dari keinginan-keinginan dunia. Hal ini termaktub dalam surat Al Qasas ayat 80,

Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: "Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang- orang yang sabar".(Al Qasas: 80)
Ayat ini dengan jelas membicarakan tentang benteng diri dari keinginan-keinginan dunia,

1.      Iman

Semua yang di sisi Allah berupa balasan pahala kepada orang-orang yang beriman lebih baik dari gemerlapnya dunia. Keindahan surga lebih baik dari keindahan-keindahan di dunia. Buah-buahannya lebih ranum dari pada buah-buahan di dunia. Semua yang ada di dunia hanyalah bagian terkecil dari surga yang kekal. Itu yang harus kita imani. Dan begitulah seharusnya kita mengimani dan memperkuat keimanan. Karena iman itu terkadang jadi ukuran pahala yang diberikan. Misalnya, niat yang benar adalah cerminan keimanan yang kuat, sedangkan pahala amal itu tergantung pada niat. Jadi keimanan itu adalah salah satu penentu diterima atau tidaknya amalan kita.
Kita harus meyakini dengan keimanan penuh tanpa ragu bahwa pahala Allah itu lebih baik bagi mereka yang beriman kepada hari pembalasan. Balasan kebaikan dari Allah lebih terasa bagi mereka yang benar akidahnya, yang benar keyakinannya bahwa Allah Sang Penguasa di Hari Kiamat nanti. Merekalah yang selamat dari neraka di akhirat kelak, karena Allah tidak akan menzhalimi mereka. Sebab Allah tidak akan pernah menzhalimi suatu kaum kecuali mereka menzhalimi diri mereka sendiri.

2.      Amal saleh 

Pahala kebaikan itu tidak cukup hanya dengan iman, sehingga Allah menjadikan amal saleh sebagai hal yang penting dalam mencapai kebaikan sempurna. Karena amal saleh itu sebagai bentuk implementasi keimanan dalam hati. Keimanan yang kuat itu pembenarnya adalah amal kebaikan, sebagaimana niat yang benar itu berpahala, sedangkan amal akan berpahala karena niat yang benar. Maka, iman adalah yang pertama dan utama sebagai landasan dalam beramal, karena amal tanpa iman tidak akan mendatangkan pahala, sebaliknya iman tanpa amal terkadang menyebabkan orang bisa masuk surga selama iman itu masih bersemayam di dalam dada. Namun demikian yang paling dituntut dari kita adalah keserasian antara iman dan amal saleh. Beriman dengan benar, dan mengejawantahkan keimanan itu dalam kehidupan sehari-hari.

3.      Sabar

Untuk tetap eksis dalam keimanan dan amal saleh, dibutuhkan kesabaran dalam menempuhnya. Seseorang tidak akan mampu konsisten kalau ia tidak memiliki kesabaran. Karena kesabaran merupakan tuntutan terakhir bagi orang yang berusaha menebarkan kebaikan di bumi ini.
Sebagaimana yang tertuang dalam surah Al Ashr
 Demi masa.(1) Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, (2) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.(3) (Al Ashr: 3)
Siapa pun kita dan apa pun profesi kita pasti butuh yang namanya kesabaran. Betapa tidak, semua orang melalui proses yang panjang dalam menempuh sebuah kesuksesan. Begitu juga dengan para penyeru kepada kebaikan, kesabaran merupakan modal yang tidak bisa diremehkan. Harus menjadi sifat utama bagi pengemban dakwah. Bukan tanpa alasan Allah menjadikan sabar sebagai salah satu benteng dari cinta dunia. Karena sabar itu mampu mengendalikan jiwa kita dari segala bentuk penyimpangan dunia. Sabar mampu menahan segala keinginan untuk berfoya-foya dalam kehidupan ini.