Masalah itu
terkadang menjadikan seseorang jatuh, sakit, bahkan sampai berdarah-darah. Ia
datang seakan-akan anak panah yang melesat dari busurnya. Gerakannya begitu
cepat dan tepat sasaran, melukai jiwa. Sebagian orang mengumpamakan masalah itu
bagaikan gunung, ia begitu berat jika dipikul. Sehingga ketika masalah itu
datang, maka mereka menjadikannya sebagai beban berat yang begitu menyesakkan.
Hati tidak siap menerimanya. Jiwa meronta ingin keluar dari kungkungannya.
Namun ada juga yang
menganggap masalah itu hanya kecil. Bagaikan duri di jalanan, cukup hanya
disingkirkan, selesai masalah. Juga hanya sebutir pasir di antara pasir-pasir
di pantai. Atau laksana satu bintang dari milyaran bintang di langit. Yang jika
dipandang dari bumi bintang itu sangat kecil, bahkan ada yang tidak nampak.
Itulah hakekat masalah. Ia kecil dibanding kebesaran Allah Swt. Masalah itu
kecil, sedangkan Allah Maha Besar. Cukup dengan mengingat kebesaran Allah, kita
akan merasa bahwa masalah itu tidak ada apa-apanya, bahkan bukan apa-apa.
Begitu juga
dengan orang yang memiliki uluwwul himmah, cita-cita yang tinggi. Tidak
pantas baginya menganggap masalah itu sebagai penghalang cita-citanya. Tidak
layak baginya bertekuk lutut di hadapan luka. Merengeh, melenguh, menunjukkan
ketidakberdayaan di hadapan masalah hanyalah merupakan sikap yang pantas
dimiliki orang-orang yang berhati kecil.
Masalah adalah
tabir-tabir mutiara. Ia datang menguji kesungguhan. Menghampiri untuk mentadrib,
melatih jiwa dan raga para pemilik cita-cita yang tinggi. Masalah bukan penjara
keabadian. Dan juga bukan goa kengerian. Ia hanya tabir-tabir mutiara.
Kedatangannya dapat menguatkan cita-cita. Mendewasakan usia dan pengalaman.
Bahkan mampu menghiasi tapak demi tapak dalam menuju kesuksesan.
Begitulah
hakekat masalah, ia hanya kecil bagi mereka yang mampu bertahan. Ia hanya
sebutir pasir bagi para pejuang. Karena para pejuang yang bertahan meyakini
bahwa Allah bersama mereka di setiap langkah-langkah perjuangan. Maka yakinlah bahwa
setiap kesulitan itu terkandung banyak kemudahan-kemudahan yang Allah berikan.
Karena
Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan
itu ada kemudahan. (Asy Syarh: 5-6)
Dalam sebuah riwayat, sebagaimana yang
diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Suatu ketika Ibnu Abbas bercerita,
كُنْتُ رَدِيفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فَقَالَ يَا غُلَامُ أَوْ يَا غُلَيِّمُ أَلَا أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ يَنْفَعُكَ
اللَّهُ بِهِنَّ فَقُلْتُ بَلَى فَقَالَ احْفَظْ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظْ
اللَّهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ تَعَرَّفْ إِلَيْهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي
الشِّدَّةِ وَإِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ
بِاللَّهِ قَدْ جَفَّ الْقَلَمُ بِمَا هُوَ كَائِنٌ فَلَوْ أَنَّ الْخَلْقَ
كُلَّهُمْ جَمِيعًا أَرَادُوا أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَكْتُبْهُ اللَّهُ
عَلَيْكَ لَمْ يَقْدِرُوا عَلَيْهِ وَإِنْ أَرَادُوا أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ
لَمْ يَكْتُبْهُ اللَّهُ عَلَيْكَ لَمْ يَقْدِرُوا عَلَيْهِ وَاعْلَمْ أَنَّ فِي
الصَّبْرِ عَلَى مَا تَكْرَهُ خَيْرًا كَثِيرًا وَأَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ
وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Aku dibonceng
oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam lalu beliau bersabda: "Wahai
anak." Atau beliau mengatakan: "Wahai anak kecil, maukah kamu aku
ajari beberapa kalimat yang Allah akan memberimu manfaat." Aku menjawab;
"Ya." Lalu beliau bersabda: "Jagalah Allah niscaya Dia akan
menjagamu, Jagalah Allah niscaya engkau mendapatiNya di hadapanmu. Ingatlah Dia
di waktu lapang niscaya Dia akan ingat kepadamu di waktu sempit. Jika engkau
meminta maka mintalah kepada Allah, dan jika engkau memohon pertolongan maka
mohonlah pertolongan kepada Allah. Telah kering pena dengan apa yang telah
terjadi. Seandainya seluruh makhluk hendak memberi manfaat kepadamu dengan
sesuatu yang Allah tidak menetapkan padamu, niscaya mereka tidak akan mampu
memberikan manfaat kepadamu. Dan seandainya mereka hendak mencelakakan dirimu dengan
sesuatu yang Allah tidak menetapkan padamu, niscaya mereka tidak akan mampu
mencelakakanmu. Dan ketahuilah bahwa di dalam kesabaran terhadap hal yang
engkau benci terdapat banyak kebaikan. Bahwa pertolongan itu (datang)
setelah kesabaran, dan kelapangan itu (datang) setelah kesempitan serta bahwa
kemudahan itu (datang) setelah kesulitan." (H.R Ahmad)
Begitulah tabiat kesulitan. Pasti
akan disusul oleh kemudahan. Oleh karena itu, pemahaman tentang tabiat itu
perlu ditingkatkan. Dan juga kesabaran terhadap keniscayaan itu harus dikuatkan
lagi. Karena pada dasarnya seseorang itu mampu melalui masa-masa sulit dalam
hidupnya kalau ia mampu bersabar dan memahami tabiat dari kesulitan itu.
Maka pahamilah bahwa kesulitan itu
adalah tabir-tabir mutiara. Bahwa ia melatih jiwa, mendewasakan diri, dan
tentunya sebagai pemberi kabar gembira bahwa sebentar lagi akan datang
kemudahan-kemudahan. Ia laksana mendung yang menghalangi cerahnya langit, namun
ketahuilah bahwa di balik awan mendung itu terkandung banyak butiran-butiran karunia
yang akan membasahi bumi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar