Selasa, 10 November 2015

TABIR-TABIR MUTIARA



Masalah itu terkadang menjadikan seseorang jatuh, sakit, bahkan sampai berdarah-darah. Ia datang seakan-akan anak panah yang melesat dari busurnya. Gerakannya begitu cepat dan tepat sasaran, melukai jiwa. Sebagian orang mengumpamakan masalah itu bagaikan gunung, ia begitu berat jika dipikul. Sehingga ketika masalah itu datang, maka mereka menjadikannya sebagai beban berat yang begitu menyesakkan. Hati tidak siap menerimanya. Jiwa meronta ingin keluar dari kungkungannya.
Namun ada juga yang menganggap masalah itu hanya kecil. Bagaikan duri di jalanan, cukup hanya disingkirkan, selesai masalah. Juga hanya sebutir pasir di antara pasir-pasir di pantai. Atau laksana satu bintang dari milyaran bintang di langit. Yang jika dipandang dari bumi bintang itu sangat kecil, bahkan ada yang tidak nampak. Itulah hakekat masalah. Ia kecil dibanding kebesaran Allah Swt. Masalah itu kecil, sedangkan Allah Maha Besar. Cukup dengan mengingat kebesaran Allah, kita akan merasa bahwa masalah itu tidak ada apa-apanya, bahkan bukan apa-apa.
Begitu juga dengan orang yang memiliki uluwwul himmah, cita-cita yang tinggi. Tidak pantas baginya menganggap masalah itu sebagai penghalang cita-citanya. Tidak layak baginya bertekuk lutut di hadapan luka. Merengeh, melenguh, menunjukkan ketidakberdayaan di hadapan masalah hanyalah merupakan sikap yang pantas dimiliki orang-orang yang berhati kecil.
Masalah adalah tabir-tabir mutiara. Ia datang menguji kesungguhan. Menghampiri untuk mentadrib, melatih jiwa dan raga para pemilik cita-cita yang tinggi. Masalah bukan penjara keabadian. Dan juga bukan goa kengerian. Ia hanya tabir-tabir mutiara. Kedatangannya dapat menguatkan cita-cita. Mendewasakan usia dan pengalaman. Bahkan mampu menghiasi tapak demi tapak dalam menuju kesuksesan.
Begitulah hakekat masalah, ia hanya kecil bagi mereka yang mampu bertahan. Ia hanya sebutir pasir bagi para pejuang. Karena para pejuang yang bertahan meyakini bahwa Allah bersama mereka di setiap langkah-langkah perjuangan. Maka yakinlah bahwa setiap kesulitan itu terkandung banyak kemudahan-kemudahan yang Allah berikan.
Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (Asy Syarh: 5-6)
            Dalam sebuah riwayat, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Suatu ketika Ibnu Abbas bercerita,
كُنْتُ رَدِيفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا غُلَامُ أَوْ يَا غُلَيِّمُ أَلَا أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ يَنْفَعُكَ اللَّهُ بِهِنَّ فَقُلْتُ بَلَى فَقَالَ احْفَظْ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظْ اللَّهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ تَعَرَّفْ إِلَيْهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ وَإِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ قَدْ جَفَّ الْقَلَمُ بِمَا هُوَ كَائِنٌ فَلَوْ أَنَّ الْخَلْقَ كُلَّهُمْ جَمِيعًا أَرَادُوا أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَكْتُبْهُ اللَّهُ عَلَيْكَ لَمْ يَقْدِرُوا عَلَيْهِ وَإِنْ أَرَادُوا أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَكْتُبْهُ اللَّهُ عَلَيْكَ لَمْ يَقْدِرُوا عَلَيْهِ وَاعْلَمْ أَنَّ فِي الصَّبْرِ عَلَى مَا تَكْرَهُ خَيْرًا كَثِيرًا وَأَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Aku dibonceng oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam lalu beliau bersabda: "Wahai anak." Atau beliau mengatakan: "Wahai anak kecil, maukah kamu aku ajari beberapa kalimat yang Allah akan memberimu manfaat." Aku menjawab; "Ya." Lalu beliau bersabda: "Jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu, Jagalah Allah niscaya engkau mendapatiNya di hadapanmu. Ingatlah Dia di waktu lapang niscaya Dia akan ingat kepadamu di waktu sempit. Jika engkau meminta maka mintalah kepada Allah, dan jika engkau memohon pertolongan maka mohonlah pertolongan kepada Allah. Telah kering pena dengan apa yang telah terjadi. Seandainya seluruh makhluk hendak memberi manfaat kepadamu dengan sesuatu yang Allah tidak menetapkan padamu, niscaya mereka tidak akan mampu memberikan manfaat kepadamu. Dan seandainya mereka hendak mencelakakan dirimu dengan sesuatu yang Allah tidak menetapkan padamu, niscaya mereka tidak akan mampu mencelakakanmu. Dan ketahuilah bahwa di dalam kesabaran terhadap hal yang engkau benci terdapat banyak kebaikan. Bahwa pertolongan itu (datang) setelah kesabaran, dan kelapangan itu (datang) setelah kesempitan serta bahwa kemudahan itu (datang) setelah kesulitan." (H.R Ahmad)
            Begitulah tabiat kesulitan. Pasti akan disusul oleh kemudahan. Oleh karena itu, pemahaman tentang tabiat itu perlu ditingkatkan. Dan juga kesabaran terhadap keniscayaan itu harus dikuatkan lagi. Karena pada dasarnya seseorang itu mampu melalui masa-masa sulit dalam hidupnya kalau ia mampu bersabar dan memahami tabiat dari kesulitan itu.
            Maka pahamilah bahwa kesulitan itu adalah tabir-tabir mutiara. Bahwa ia melatih jiwa, mendewasakan diri, dan tentunya sebagai pemberi kabar gembira bahwa sebentar lagi akan datang kemudahan-kemudahan. Ia laksana mendung yang menghalangi cerahnya langit, namun ketahuilah bahwa di balik awan mendung itu terkandung banyak butiran-butiran karunia yang akan membasahi bumi.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar