Allah
telah menjelaskan dalam Al Quran perihal harta yang menyebabkan kekafiran. Sebagaimana
firman-Nya di surat Al Qasas,
Sesungguhnya Karun adalah Termasuk kaum Musa, tetapi ia berlaku
zalim terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan
harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang
kuat-kuat. (ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, “Janganlah kamu terlalu
bangga; Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang membanggakan diri.” (Al
Qasas: 76)
Qarun telah mendapat anugerah berupa harta yang banyak tetapi
justru menjadi ingkar karena terlena dengan hartanya. Dan juga zalim terhadap
Musa dan Bani Israil. Harta inilah yang menjadi sebab utama keingkaran Qarun
terhadap kebenaran. Harta inilah yang telah menutupi mata hatinya. Dan harta
inilah yang telah merubah sisi Qarun menjadi buas.
Tetapi pengaruh buruk harta kepada Qarun bukan menjadi alasan kita
untuk membenci harta. Juga bukan untuk menghindari kekayaan sehingga tidak lagi berusaha untuk memenuhi kebutuhan.
Karena Allah telah menjadikan harta sebagai pokok kehidupan. Sebagaimana
tertulis dalam surat An Nisa,
Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna
akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai
pokok kehidupan. berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan
ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. (An Nisa: 5)
Bahkan naluri manusia diciptakan
Allah sangat mencintai harta sehingga tidak mungkin untuk menghindarinya. Hal
ini sesuai dengan firman Allah Azza Wa Jalla dalam Al Quran,
“Dan
kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (Al Fajr: 20)
Mencari karunia Allah berupa harta sangatlah penting untuk berlangsungnya
sebuah kehidupan. Penting untuk menanggung beban-beban dakwah. Dan juga penting
untuk membiayai perjuangan di jalan Allah. Sehingga menjauhi harta bukanlah
suatu kebaikan. Bahkan mencari harta sangat dianjurkan. Karena yang menjadi
masalah bukanlah pada harta, melainkan pada cara menggunakan harta itu.
Bersedekah, membayar zakat, membangun sarana-sarana kepentingan
umat merupakan sebahagian kecil dari amalan-amalan yang membutuhkan uang.
Bahkan ibadah shalat pun tetap menggunakan uang untuk membeli pakaian. Sehingga
mau tidak mau kita harus berusaha mencari harta untuk kepentingan dunia dan
juga untuk akhirat kelak.
1.
Manfaat harta
Harta
itu memiliki manfaat, yang terbagi dalam dua kategori; duniawiah dan diiniah.[1]
Manfaat
duniawiah, semua orang sudah tahu. Bahkan terkadang lalai karenanya. Kalau
manfaat diniah, terbagi atas tiga,
a.
Menginfakkan untuk diri sendiri
Menggunakan
harta untuk pribadi baik dalam hal ibadah; haji dan jihad, maupun dalam hal-hal
yang mempermudah kita untuk beribadah; makanan dan minuman, pakaian dan tempat
tinggal.
Semua
kebutuhan-kebutuhan itu kalau tidak terpenuhi maka ibadah akan terganggu.
Sedangkan segala sesuatu yang menyebabkan terlaksananya ibadah maka sesuatu itu
jadi ibadah juga. Sehingga memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut untuk
mewujudkan terlaksananya ibadah dengan baik merupakan manfaat harta secara diniah
atau agamawi.
b.
Dimanfaatkan untuk orang lain
Harta
juga memiliki manfaat selain untuk diri sendiri juga untuk orang lain. Dengan
bersedekah kepada orang lain berarti manfaat harta itu akan bisa dirasakan
orang lain. Atau dengan harta itu kita bisa membelikan hadiah untuk anak dan
kerabat, dan juga untuk menolong korban bencana alam, dan sebagainya. Harta itu
juga bisa dimanfaatkan untuk menggaji para pekerja di perusahaan pribadi.
Karena pekerjaan yang banyak itu tidak mungkin bisa diselesaikan sendiri tanpa
bantuan orang lain. Kalau tetap ngotot maka waktu yang ada justru habis dalam pekerjaan. Sehingga
harta ini tidak mungkin dipandang remeh apalagi merasa alergi.
c.
Dimanfaatkan untuk hal-hal tertentu
Seperti halnya orang yang membangun mesjid, rumah sakit,
sekolah-sekolah dan lain-lain yang bermanfaat untuk orang banyak. Tentu semua
upaya kita untuk memanfaatkan harta untuk khalayak umum akan menjadi amalan
jariyah di yaumil akhir nanti.
Semua pembagian manfaat harta ini menunjukkan bahwa harta itu
sesuatu yang sangat diperlukan. Bahkan sangat berpengaruh dalam ibadah. Orang
shalat butuh pakaian yang bisa menutup aurat. Jihad juga butuh senjata,
perlengkapan dan obat-obatan. Apalagi ibadah haji yang secara terang-terangan
butuh uang yang lebih. Itulah manfaat harta secara diniah.
2.
Bahaya harta
Harta juga selain memiliki manfaat, juga memiliki mudharat. Adapun
beberapa bahaya yang ditimbulkan oleh harta antara lain:
a.
Mengarahkan pada maksiat
Termasuk maksiat dengan harta adalah tidak mengeluarkan zakatnya.
Rasulullah SAW bersabda,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ آتَاهُ
اللَّهُ مَالًا فَلَمْ يُؤَدِّ زَكَاتَهُ مُثِّلَ لَهُ مَالُهُ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ شُجَاعًا أَقْرَعَ لَهُ زَبِيبَتَانِ يُطَوَّقُهُ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ ثُمَّ يَأْخُذُ بِلِهْزِمَتَيْهِ يَعْنِي بِشِدْقَيْهِ ثُمَّ يَقُولُ
أَنَا مَالُكَ أَنَا كَنْزُكَ ثُمَّ تَلَا ﴿ لَا يَحْسِبَنَّ الَّذِينَ
يَبْخَلُونَ ﴾
Dari
Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata,: Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam
telah bersabda: "Barangsiapa yang Allah berikan harta namun tidak
mengeluarkan zakatnya maka pada hari qiyamat hartanya itu akan berubah wujud
menjadi seekor ular jantan yang bertanduk dan memiliki dua taring lalu melilit
orang itu pada hari qiyamat lalu ular itu memakannya dengan kedua rahangnya,
yaitu dengan mulutnya seraya berkata,: 'Aku inilah hartamu, akulah harta
simpananmu". Kemudian Beliau membaca firman Allah subhanahu wata'ala QS
Alu 'Imran ayat 180 yang artinya "(Sekali-kali janganlah orang-orang yang
bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka,
…"). (h.r Bukhari)
Itulah salah satu dari bahaya yang ditimbulkan harta. Kekayaan yang
tertumpuk justru akan membinasakan di akhirat karena tidak dikeluarkan haknya. Sungguh
mengerikan ular jantan bertaring dan bertanduk itu. Ia siap menyantap semua
penghuni neraka yang tidak mengeluarkan zakat dari hartanya. Dan ular jelmaan
dari harta itu tidak akan memberikan ampunan. Ia menuruti segala perintah
Tuhannya tanpa harus menunda-nunda. Setiap ada perintah, ia segera
melaksanakannya. Allahumma ya Allah, kami berlindung dari murka-Mu dan dari
siksa api neraka-Mu.
b.
Berpoya-poya
Harta juga menjadikan orang berpoya-poya dalam hidup. Dengan
banyaknya harta membuat hidup terlena dalam kenikmatan duniawi. Makan boleh
jadi berlebih-lebihan. Begitu pun berpakaian. Semua model pakaian akan jadi
koleksi dalam rumah.
Meskipun makanan dan pakaian masih dalam kategori mubah atau
dibolehkan tetap saja diperhatikan rambu-rambu dalam memanfaatkannya. Kalau
tidak memperhatikan batasan-batasan dalam berpakaian ataupun dalam hal makanan
maka boleh jadi akan jatuh dalam daerah terlarang. Makanan yang seharusnya
halal namun karena sudah berlebihan maka akan jadi terlarang. Begitu juga
dengan pakaian kalau tidak menutupi aurat maka akan jadi terlarang. Apalagi
kalau makanan dan minuman yang haram maka lebih terlarang lagi untuk
mengkonsumsinya. Itulah bahaya dari harta. Ia bisa menjadikan pemiliknya hidup
berpoya-poya.
c.
Harta bisa melalaikan dari mengingat Allah
Bahaya dari harta juga adalah bisa menjadikan pemiliknya lalai dari
mengingat sang Pemilik hakiki harta itu, yaitu Allah Azza Wa Jalla. Sehingga
menjadikan orang merugi karena berpaling dari jalan-Nya.
Allah Azza Wa Jalla berfirman dalam surat Al Munafiqun,
“Hai orang-orang beriman,
janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah.
Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi”
(Al Munafiqun: 9)
Dengan
mengetahui manfaat dan mudharat dari harta maka kita harus berhati-hati dalam
memanfaatkannya agar tidak terjerumus dalam jurang kemaksiatan, dan agar lebih
memanfaatkan harta pada jalan yang benar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar