Senin, 16 November 2015

WARNA ITU…



Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu. Itulah sebagian warna dari warna-warna yang ada di dunia ini. Warna-warna itu tidak asing di mata kita. Warna-warna itu berpadu di langit. Berpadu menjadi satu. Sehingga memancarkan warna yang memesona. warna yang indah. Yang sering kita sebut dengan pelangi. Ya. Pelangi. Pelangi itu membentang menghiasi putihnya awan. Pelangi itu indah karena paduan warnanya. Kita ulangi sekali lagi. Warna itu indah karena paduan warnanya. ya. Paduan warnanya. Hanya dengan berpadu, pelangi itu jadi indah.
Saudaraku, Saya yakin bahwa semua ciptaan Allah adalah siratan yang harus dibaca. Semua yang ada di jagat ini untuk manusia dan untuk direnungi. Bukankah Allah telah menyiratkan dalam firmannya? Benar sekali sahabatku. Ayat itu merupakan wahyu yang pertama kali turun. Di saat sang idola kita, Rasulullah SAW berada di tempat yang gelap. Di tempat yang jauh dari keramaian. Di saat itu Rasulullah sedang menyendiri untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, Allah SWT. Singkat kisah, bahwa firman itu adalah surat Al-’Alaq ayat 1-5. yang diawali dengan kata iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq. Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Lihatlah ayat itu. Pahami sekali lagi. Bahwa ayat itu tidak memiliki objek. Dan saat itu Rasulullah tidak memiliki buku bacaan. Apalagi beliau seorang yang tidak bisa baca tulis. Maka sangat tidak mungkin kalau ayat itu menyuruh Rasulullah untuk membaca buku. Dan ternyata, siratan dalam ayat itu adalah alam semesta ini. Bukan bacaan tertulis.

Kini saatnya kita memahami ayat pelangi. Kita renungi paduan warnanya, me-ji-ku-hi-bi-ni-u. Kalau warna-warna itu tidak berpadu, maka bukan pelangi namanya. Merah bisa jadi adalah darah. Putih bisa jadi adalah kertas. Tapi merah-putih kalau berpadu akan jadi bendera Indonesia. Begitu juga dengan paduan warna yang banyak, akan terlihat menawan. Dan paduan warna alami hanya ada dalam pelangi. Benar, hanya ada  dalam pelangi.
Pelangi itu telah menginspirasikan sebuah makna kebersamaan, bukan perpecahan. Begitu banyak jama’ah dalam Islam, namun realisasi kebersamaan sangat jauh dari mimpi mereka. Setiap golongan menganggap dirinya paling benar. Di luar golongannya adalah sesat menyesatkan, bahkan tidak layak masuk surga. Bukankah surga itu luasnya berlipat-lipat dari luasnya langit dan bumi. Surga itu tidak cukup kalau hanya ditempati oleh satu jama’ah saja. Lihatlah kawanan semut, betapa akurnya mereka. Prinsip ta’awun mereka realisasikan. Salam dan sapa menghiasi hidup mereka. Betapa malunya umat ini, kalah dengan kawanan semut yang tak berakal. Andai surga hanya milik semut, maka pantaslah itu. Tapi surga sudah dijanjikan untuk mereka yang selalu berakhlak baik.
Rasakanlah, betapa indahnya kebersamaan itu. Hati terikat dalam cinta-Nya. Semua jama’ah bersatu, sehingga terbentuklah pelangi dalam Islam, pelangi kebersamaan, pelangi ukhuwah. Dengan keunikan warnanya, semua terasa indah. Warna pelangi indah karena putihnya awan. Dan warna ukhuwah indah karena bingkai cahaya wahyu Ilahi dan Sunah Rasul-Nya. Tapi faktanya bahwa seringkali kita memandang remeh orang lain. Seolah merekalah yang salah, yang harus dihakimi, yang harus dibina. Padahal gajah berada dipelupuk tak tampak oleh mata kita.
“Pendapat mereka salah”, kata Imam Syafi’i, “tapi ada benarnya. Dan pendapatku adalah benar, tapi ada salahnya.” Lihatlah sekali lagi pendapat itu. Bacalah kembali. Betapa Imam Syafi’i tidak menganggap satu-satunya pendapat yang paling benar. Beliau yakin bahwa di atas langit masih ada langit. Di atas pendapatnya masih ada yang lebih benar. Dan warna itu layak untuk membentuk pelangi ukhuwah. “Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara”, sabda Rasulullah suatu ketika, “seorang muslim adalah saudara bagi yang lainnya”. Katika Rasulullah SAW mengatakan saudara, berarti tidak boleh ada kezhaliman, kedustaan dan tidak boleh merendahkan. Dan ketika itu Rasulullah mengisyaratkan taqwa dengan dadanya. Seolah positive thinking dan kelapangan dada adalah makna taqwa. Bukan kedengkian, kebencian dan menakut-nakuti saudara seiman. Juga bukan negative thinking. Warna-warna cintalah yang menambah indah pelangi ukhuwah itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar