Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu. Itulah
sebagian warna dari warna-warna yang ada di dunia ini. Warna-warna itu tidak
asing di mata kita. Warna-warna itu berpadu di langit. Berpadu menjadi satu.
Sehingga memancarkan warna yang memesona. warna yang indah. Yang sering kita
sebut dengan pelangi. Ya. Pelangi. Pelangi itu membentang menghiasi putihnya
awan. Pelangi itu indah karena paduan warnanya. Kita ulangi sekali lagi. Warna
itu indah karena paduan warnanya. ya. Paduan warnanya. Hanya dengan berpadu,
pelangi itu jadi indah.
Saudaraku,
Saya yakin bahwa semua ciptaan Allah adalah siratan yang harus
dibaca. Semua yang ada di jagat ini untuk manusia dan untuk direnungi. Bukankah
Allah telah menyiratkan dalam firmannya? Benar sekali sahabatku. Ayat itu
merupakan wahyu yang pertama kali turun. Di saat sang idola kita, Rasulullah
SAW berada di tempat yang gelap. Di tempat yang jauh dari keramaian. Di saat
itu Rasulullah sedang menyendiri untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta,
Allah SWT. Singkat kisah, bahwa firman itu adalah surat Al-’Alaq ayat 1-5. yang
diawali dengan kata iqra’ bismi
rabbikalladzi khalaq. Bacalah
dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Lihatlah ayat itu. Pahami sekali
lagi. Bahwa ayat itu tidak memiliki objek. Dan saat itu Rasulullah tidak
memiliki buku bacaan. Apalagi beliau seorang yang tidak bisa baca tulis. Maka
sangat tidak mungkin kalau ayat itu menyuruh Rasulullah untuk membaca buku. Dan
ternyata, siratan dalam ayat itu adalah alam semesta ini. Bukan bacaan
tertulis.
Kini saatnya kita memahami ayat pelangi. Kita renungi paduan
warnanya, me-ji-ku-hi-bi-ni-u. Kalau warna-warna itu tidak berpadu, maka
bukan pelangi namanya. Merah bisa jadi adalah darah. Putih bisa jadi adalah
kertas. Tapi merah-putih kalau berpadu akan jadi bendera Indonesia. Begitu juga
dengan paduan warna yang banyak, akan terlihat menawan. Dan paduan warna alami
hanya ada dalam pelangi. Benar, hanya ada
dalam pelangi.
Pelangi itu telah menginspirasikan sebuah makna kebersamaan, bukan
perpecahan. Begitu banyak jama’ah dalam Islam, namun realisasi kebersamaan
sangat jauh dari mimpi mereka. Setiap golongan menganggap dirinya paling benar.
Di luar golongannya adalah sesat menyesatkan, bahkan tidak layak masuk surga.
Bukankah surga itu luasnya berlipat-lipat dari luasnya langit dan bumi. Surga
itu tidak cukup kalau hanya ditempati oleh satu jama’ah saja. Lihatlah kawanan
semut, betapa akurnya mereka. Prinsip ta’awun mereka realisasikan. Salam dan
sapa menghiasi hidup mereka. Betapa malunya umat ini, kalah dengan kawanan semut
yang tak berakal. Andai surga hanya milik semut, maka pantaslah itu. Tapi surga
sudah dijanjikan untuk mereka yang selalu berakhlak baik.
Rasakanlah, betapa indahnya kebersamaan itu. Hati terikat dalam
cinta-Nya. Semua jama’ah bersatu, sehingga terbentuklah pelangi dalam Islam,
pelangi kebersamaan, pelangi ukhuwah. Dengan keunikan warnanya, semua terasa
indah. Warna pelangi indah karena putihnya awan. Dan warna ukhuwah indah karena
bingkai cahaya wahyu Ilahi dan Sunah Rasul-Nya. Tapi faktanya bahwa seringkali
kita memandang remeh orang lain. Seolah merekalah yang salah, yang harus
dihakimi, yang harus dibina. Padahal gajah berada dipelupuk tak tampak oleh
mata kita.
“Pendapat mereka salah”, kata Imam Syafi’i, “tapi ada benarnya. Dan
pendapatku adalah benar, tapi ada salahnya.” Lihatlah sekali lagi pendapat itu.
Bacalah kembali. Betapa Imam Syafi’i tidak menganggap satu-satunya pendapat
yang paling benar. Beliau yakin bahwa di atas langit masih ada langit. Di atas
pendapatnya masih ada yang lebih benar. Dan warna itu layak untuk membentuk
pelangi ukhuwah. “Jadilah hamba-hamba
Allah yang bersaudara”, sabda
Rasulullah suatu ketika, “seorang muslim
adalah saudara bagi yang lainnya”.
Katika Rasulullah SAW mengatakan saudara, berarti tidak boleh ada kezhaliman, kedustaan
dan tidak boleh merendahkan. Dan ketika itu Rasulullah mengisyaratkan taqwa
dengan dadanya. Seolah positive thinking
dan kelapangan dada adalah makna taqwa. Bukan kedengkian, kebencian dan
menakut-nakuti saudara seiman. Juga bukan negative
thinking. Warna-warna cintalah yang menambah indah pelangi ukhuwah itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar