Berkilaulah
tapak-tapak pengelana, bersama melangkah meniti jalan terjal.
Di bawah terik
sinar membara, tangan-tangan erat saling bergandengan,
menguatkan
janji bersua di jannah-Nya
Meniti jalan panjang nan terjal pasti sangat
melelahkan. Menciptakan dahaga yang tak terkira. Tiap kali mengayunkan langkah,
terasa leher bagai tercekik, nafas tersengal, langkah tertatih, berat terasa di
pundak seolah memikul gunung. Hal yang berat itu pernah dialami Rasulullah saw.
bersama pasukan kaum muslimin saat perjalanan menuju medan perang Tabuk. Betapa
keadaan saat itu sangat sulit. Jarak tempuh yang jauh, terik sinar matahari
yang membakar kulit, rasa dahaga yang mencekik, perbekalan yang sangat sedikit
dan berbagai kondisi sulit lainnya. Belum lagi teringat buah-buah yang mulai
masak, menggoda mereka agar tetap tinggal di tempat sambil menikmati teduhnya
pepohonan.
Namun dalam mempersiapkan menghadapi situasi
sulit itu, seluruh kaum muslimin berlomba-lomba memberikan apa yang mereka
miliki dari harta, ternak, dan bahan makanan. Setiap orang tidak mau
ketinggalan berinfak untuk persiapan perang ini. Mereka pun berangkat dengan
suka rela demi memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya. Bahkan di antara mereka
sampai meneteskan air mata karena tidak mampu berinfak dan tidak memiliki
kendaraan untuk membawa mereka ke medan pertempuran.
Hal ini digambarkan Allah dalam surah At Taubah
ayat 92,
Dan tiada (pula) berdosa atas orang-orang yang apabila
mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu
berkata: "Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu." lalu
mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan,
lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan. (At Taubah:
92)
Itulah sedikit gambaran tentang ketulusan dalam
pengorbanan. Dan memang begitulah seharusnya terjadi. Karena hati mereka
terpaut di atas cinta-Nya, dalam bingkai ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Karena mereka telah berikrar untuk membela Agama Allah. Dan karena mereka
mengharapkan surga yang kekal abadi.
Meski curam dan terjal, langkah mereka tidak
terhenti. Rintangan tidak mampu memadamkan kilauan tapak-tapak mereka. Bahkan
halangan yang datang menerjang justru jadi saksi perjuangan suci mereka. Maka,
meski curam dan terjal, jalan itu akan mudah dilalui karena adanya kebersamaan.
Melangkah bersama meniti jalan itu, bergandengan tangan menghalau badai, menyulap
segala musibah jadi karunia.
Bagi orang beriman, jalan terjal adalah
karunia. Panas terik adalah pembakar dosa. Sedangkan setiap jurang yang dilalui
mengandung lapisan-lapisan karunia. Karunia karena mendewasakan. Karunia karena
menguatkan. Dan karunia karena mengandung pahala.
Menuju jalan curam dan terjal persiapkan bekal
fisik yang kuat, rohani yang bersih, agar saat melangkah akan terasa ringan,
dan di saat menapak akan terasa kesegaran jiwa. Tetaplah berjalan menuju
kebaikan meski di jalan terjal kakimu terkilir, bahkan jatuh bersimbah darah,
karena hanya di jalan kebaikan tapak-tapak akan terus berkilau menerangi tiap
langkah kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar