Selasa, 10 November 2015

MESKI CURAM DAN TERJAL


Berkilaulah tapak-tapak pengelana, bersama melangkah meniti jalan terjal.
Di bawah terik sinar membara, tangan-tangan erat saling bergandengan,
menguatkan janji bersua di jannah-Nya

Meniti jalan panjang nan terjal pasti sangat melelahkan. Menciptakan dahaga yang tak terkira. Tiap kali mengayunkan langkah, terasa leher bagai tercekik, nafas tersengal, langkah tertatih, berat terasa di pundak seolah memikul gunung. Hal yang berat itu pernah dialami Rasulullah saw. bersama pasukan kaum muslimin saat perjalanan menuju medan perang Tabuk. Betapa keadaan saat itu sangat sulit. Jarak tempuh yang jauh, terik sinar matahari yang membakar kulit, rasa dahaga yang mencekik, perbekalan yang sangat sedikit dan berbagai kondisi sulit lainnya. Belum lagi teringat buah-buah yang mulai masak, menggoda mereka agar tetap tinggal di tempat sambil menikmati teduhnya pepohonan.
Namun dalam mempersiapkan menghadapi situasi sulit itu, seluruh kaum muslimin berlomba-lomba memberikan apa yang mereka miliki dari harta, ternak, dan bahan makanan. Setiap orang tidak mau ketinggalan berinfak untuk persiapan perang ini. Mereka pun berangkat dengan suka rela demi memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya. Bahkan di antara mereka sampai meneteskan air mata karena tidak mampu berinfak dan tidak memiliki kendaraan untuk membawa mereka ke medan pertempuran.
Hal ini digambarkan Allah dalam surah At Taubah ayat 92,
ŸDan tiada (pula) berdosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: "Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu." lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan. (At Taubah: 92)
Itulah sedikit gambaran tentang ketulusan dalam pengorbanan. Dan memang begitulah seharusnya terjadi. Karena hati mereka terpaut di atas cinta-Nya, dalam bingkai ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Karena mereka telah berikrar untuk membela Agama Allah. Dan karena mereka mengharapkan surga yang kekal abadi.
Meski curam dan terjal, langkah mereka tidak terhenti. Rintangan tidak mampu memadamkan kilauan tapak-tapak mereka. Bahkan halangan yang datang menerjang justru jadi saksi perjuangan suci mereka. Maka, meski curam dan terjal, jalan itu akan mudah dilalui karena adanya kebersamaan. Melangkah bersama meniti jalan itu, bergandengan tangan menghalau badai, menyulap segala musibah jadi karunia.
Bagi orang beriman, jalan terjal adalah karunia. Panas terik adalah pembakar dosa. Sedangkan setiap jurang yang dilalui mengandung lapisan-lapisan karunia. Karunia karena mendewasakan. Karunia karena menguatkan. Dan karunia karena mengandung pahala.
Menuju jalan curam dan terjal persiapkan bekal fisik yang kuat, rohani yang bersih, agar saat melangkah akan terasa ringan, dan di saat menapak akan terasa kesegaran jiwa. Tetaplah berjalan menuju kebaikan meski di jalan terjal kakimu terkilir, bahkan jatuh bersimbah darah, karena hanya di jalan kebaikan tapak-tapak akan terus berkilau menerangi tiap langkah kita.




           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar