Dua sayap
seorang mukmin yang mampu merubah segala urusannya menjadi baik adalah sabar
dan syukur. Rasulullah Saw. menyatakan ketakjuban beliau perihal kondisi
seorang mukmin yang menggunakan dua sayap itu.
عَنْ صُهَيْبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ
وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ
فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Dari Shuhaib
berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "perkara orang
mukmin mengagumkan, sesungguhnya semua perihalnya baik dan itu tidak dimiliki
seorang pun selain orang mukmin, bila tertimpa kesenangan, ia bersyukur dan
syukur itu baik baginya dan bila tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu
baik baginya." (H.R Muslim)
Inilah dua
sayap yang apabila dimiliki seorang mukmin maka ia akan selalu dalam kondisi
baik. Ketika ia mendapatkan segala kenikmatan, ia bersyukur. Begitu juga sebaliknya,
ketika ditimpa musibah seberapa pun beratnya, ia bersabar. Maka sabar dan
syukur ini kalau dimiliki akan selalu mendatangkan kebaikan.
Tidak ada yang
mampu memakai dua sayap sabar dan syukur kecuali orang beriman. Betapa tidak,
ketika seseorang mengaku beriman maka dia pasti akan mengalami ujian keimanan.
Tidak cukup hanya dengan mengatakan “aku beriman” namun tanpa diuji lagi. Semua
pernyataan keimanan pasti membutuhkan pembuktian. Dan perlu diingat kembali
bahwa ujian keimanan itu sangat berat. Ada ujian berupa musibah, dan ada pula
ujian berupa kenikmatan. Di realita kehidupan banyak yang mampu bersabar ketika
diuji dengan kemelaratan. Namun tidak sedikit yang gagal ketika mendapat
kenikmatan. Orang bisa bertahan ketika diterpa angin topan. Namun ketika angain
sepoi-sepoi yang berhembus membuat orang terlena.
Kita begitu
banyak disuguhi kisah-kisah tentang orang yang rajin beribadah di kala miskin.
Tetapi ketika sudah berlimpah kekayaan menjadi terlena dan lalai dari ibadah.
Qarun misalnya, ia adalah orang yang sangat dermawan dan paling pintar membaca
taurat di kalangan Bani Israil, setelah bergelimang kekayaan justru berubah
jadi makhluk yang paling kikir.
Namun tidak
bagi orang beriman. Ujian kesengsaraan maupun harta yang melimpah bukanlah
penyebab rapuhnya keimanan. Karena orang beriman memiliki dua sayap yang selalu
waspada ketika sewaktu-waktu ia harus terbang. Terbang menghindari
bisikan-bisikan nurani. Menjauhi suara-suara iblis dari golongan jin dan
manusia. Ketika ujian kesengsaraan ditimpakan kepadanya, ia justru
mengedepankan keimanannya. Keimanan akan balasan dari Allah Swt. bahwa bersabar
itu berbalaskan surga. Ia tidak akan mendengarkan bisikan-bisikan syetan. Ia
tidak akan menodai keimanannya dengan kekesalan sesaat. Begitu juga ketika
mendapatkan kenikmatan, itu tidak akan mampu melenakannya. Ia justru menganggap
bahwa semua kenikmatan itu hanyalah titipan sementara dari Sang Pemilik
Segalanya, Allah Azza wa Jalla.
Itulah dua
sayap sabar dan syukur. Kehadirannya membawa keberkahan di kehidupan orang
beriman. Memilikinya berarti bersiap untuk menerima kabaikan yang banyak di
setiap urusan. Dan sekali lagi bahwa tidak ada yang mampu memilikinya kecuali
orang yang hatinya diliputi keimanan kepada Allah Swt. Maka berimanlah! Dan
teguhlah dalam keimanan agar kelak engkau akan terbang tinggi bersama
lapis-lapis keberkahan. Keberkahan ketika berjuang meraih kesabaran. Keberkahan
ketika menetapi kesabaran. Keberkahan ketika mensyukuri segala nikmat Allah.
Dan keberkahan ketika engkau akan menikmati semua fasilitas surga yang Allah
anugerahkan untukmu. Berimanlah! Dan perbaharuilah imanmu! Sampai sang penggoda
kelelahan dalam menghancurkan keimananmu. Dan tentunya bersabarlah sampai
engkau benar-benar sadar bahwa ternyata engkau harus bersyukur meskipun musibah
berat menimpamu. Karena bersyukur di masa sulit akan melahirkan sifat qanaah.
Merasa cukup dengan karunia Allah Yang Maha Luas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar