Selasa, 10 November 2015

DUA SAYAP



Dua sayap seorang mukmin yang mampu merubah segala urusannya menjadi baik adalah sabar dan syukur. Rasulullah Saw. menyatakan ketakjuban beliau perihal kondisi seorang mukmin yang menggunakan dua sayap itu.
عَنْ صُهَيْبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Dari Shuhaib berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "perkara orang mukmin mengagumkan, sesungguhnya semua perihalnya baik dan itu tidak dimiliki seorang pun selain orang mukmin, bila tertimpa kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya dan bila tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya." (H.R Muslim)
Inilah dua sayap yang apabila dimiliki seorang mukmin maka ia akan selalu dalam kondisi baik. Ketika ia mendapatkan segala kenikmatan, ia bersyukur. Begitu juga sebaliknya, ketika ditimpa musibah seberapa pun beratnya, ia bersabar. Maka sabar dan syukur ini kalau dimiliki akan selalu mendatangkan kebaikan.
Tidak ada yang mampu memakai dua sayap sabar dan syukur kecuali orang beriman. Betapa tidak, ketika seseorang mengaku beriman maka dia pasti akan mengalami ujian keimanan. Tidak cukup hanya dengan mengatakan “aku beriman” namun tanpa diuji lagi. Semua pernyataan keimanan pasti membutuhkan pembuktian. Dan perlu diingat kembali bahwa ujian keimanan itu sangat berat. Ada ujian berupa musibah, dan ada pula ujian berupa kenikmatan. Di realita kehidupan banyak yang mampu bersabar ketika diuji dengan kemelaratan. Namun tidak sedikit yang gagal ketika mendapat kenikmatan. Orang bisa bertahan ketika diterpa angin topan. Namun ketika angain sepoi-sepoi yang berhembus membuat orang terlena.
Kita begitu banyak disuguhi kisah-kisah tentang orang yang rajin beribadah di kala miskin. Tetapi ketika sudah berlimpah kekayaan menjadi terlena dan lalai dari ibadah. Qarun misalnya, ia adalah orang yang sangat dermawan dan paling pintar membaca taurat di kalangan Bani Israil, setelah bergelimang kekayaan justru berubah jadi makhluk yang paling kikir.
Namun tidak bagi orang beriman. Ujian kesengsaraan maupun harta yang melimpah bukanlah penyebab rapuhnya keimanan. Karena orang beriman memiliki dua sayap yang selalu waspada ketika sewaktu-waktu ia harus terbang. Terbang menghindari bisikan-bisikan nurani. Menjauhi suara-suara iblis dari golongan jin dan manusia. Ketika ujian kesengsaraan ditimpakan kepadanya, ia justru mengedepankan keimanannya. Keimanan akan balasan dari Allah Swt. bahwa bersabar itu berbalaskan surga. Ia tidak akan mendengarkan bisikan-bisikan syetan. Ia tidak akan menodai keimanannya dengan kekesalan sesaat. Begitu juga ketika mendapatkan kenikmatan, itu tidak akan mampu melenakannya. Ia justru menganggap bahwa semua kenikmatan itu hanyalah titipan sementara dari Sang Pemilik Segalanya, Allah Azza wa Jalla.
Itulah dua sayap sabar dan syukur. Kehadirannya membawa keberkahan di kehidupan orang beriman. Memilikinya berarti bersiap untuk menerima kabaikan yang banyak di setiap urusan. Dan sekali lagi bahwa tidak ada yang mampu memilikinya kecuali orang yang hatinya diliputi keimanan kepada Allah Swt. Maka berimanlah! Dan teguhlah dalam keimanan agar kelak engkau akan terbang tinggi bersama lapis-lapis keberkahan. Keberkahan ketika berjuang meraih kesabaran. Keberkahan ketika menetapi kesabaran. Keberkahan ketika mensyukuri segala nikmat Allah. Dan keberkahan ketika engkau akan menikmati semua fasilitas surga yang Allah anugerahkan untukmu. Berimanlah! Dan perbaharuilah imanmu! Sampai sang penggoda kelelahan dalam menghancurkan keimananmu. Dan tentunya bersabarlah sampai engkau benar-benar sadar bahwa ternyata engkau harus bersyukur meskipun musibah berat menimpamu. Karena bersyukur di masa sulit akan melahirkan sifat qanaah. Merasa cukup dengan karunia Allah Yang Maha Luas.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar