Saya mengambil topik ini berdasarkan firman Allah dalam surat Al
Qasas,
Dan berbuat
baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu (Al
Qasas: 77)
salah satu
sebab kehancuran Qarun karena tidak bersyukur atas nikmat yang telah Allah
berikan kepadanya. Begitu banyak harta yang Allah berikan namun dia tidak
menunaikan kewajiban zakatnya. Ia tidak mensyukuri nikmat hartanya sehingga ia
ditenggelamkan ke dalam bumi bersama hartanya.
Andai saja
Qarun mensyukuri nikmat Allah, pasti tidak akan mendapat azab dari Allah.
Karena syukur dapat menyelamatkan dari siksa yang pedih. Bahkan Allah pasti
akan menambah nikmat dan berkah-Nya kepadanya. Sebagaimana yang tertuang dalam
Al Quran surat Ibrahim ayat 7,
Dan (ingatlah
juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur,
pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari
(nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim: 7)
Dari ayat ini
nampak jelas bahwa bersyukur itu akan menjadikan nikmat bertambah. Sedangkan
keingkaran justru menambah bara api untuk menyiksa. Maka siapa yang takut akan
azab Allah hendaklah ia bersyukur atas nikmat yang Allah berikan kepadanya.
1.
Macam-macam
syukur
Muhammad Shalih
Al Munajjid menyebutkan dalam kitabnya a’maalul quluub bahwa syukur itu
berkaitan dengan tiga hal[1],
a.
Syukur dengan
hati
Maksud dari
bersyukur dengan hati adalah pengetahuannya bahwa Allah Maha Pemberi segala nikmat.
Namun sebagian
orang menisbatkan nikmat itu kepada orang yang telah memberikannya kepadanya
dan melupakan Allah Sang Maha Pemberi yang sesungguhnya. Padahal orang lain itu
hanyalah perantara Allah untuk memberi nikmat kepadanya. Sedangkan Sang Pemberi
yang sesungguhnya adalah Allah. Dialah Allah Pemilik segala sesuatu di semesta
ini. Dia Pemberi rezeki dan mengaturnya untuk seluruh makhluk yang hidup di
muka bumi. Maka satu-satunya tempat kita bersyukur adalah Allah SWT.
Sebagaimana
Allah SWT berfirman dalam Al Quran surat Faathir ayat 3,
Hai manusia,
ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah Pencipta selain Allah yang dapat
memberikan rezki kepada kamu dari langit dan bumi ? tidak ada Tuhan selain dia;
Maka Mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)? (Fathir: 3)
b.
Syukur dengan
lisan
Lisan seseorang
itu akan menggambarkan apa yang ada di hatinya. Jika hatinya dipenuhi rasa
syukur maka lisannya akan senantiasa melafazkan pujian kepada Allah SWT. Maka
pujian dengan lisan inilah yang disebut dengan asy syukru bil lisan atau
syukur dengan lisan.
Contoh dari
syukur dengan lidah seperti dalam hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari
Hudzaifah bin Al Yaman,
عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ قَال،
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ
قَالَ بِاسْمِكَ أَمُوتُ وَأَحْيَا وَإِذَا قَامَ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي
أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
Dari Hudzaifah
bin Yaman dia berkata; "Apabila Nabi shallallahu 'alaihi wasallam hendak
tidur, beliau mengucapkan: 'Bismika amuutu wa ahya (Dengan nama-Mu aku mati dan
aku hidup).' Dan apabila bangun tidur, beliau mengucapkan: "Al
Hamdulillahilladzii ahyaana ba'da maa amatana wailaihi nusyur (Segala puji bagi
Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya lah
tempat kembali)." (h.r Bukhari)
Hadits ini
sebagai contoh syukur secara lisan karena diucapkan atau diungkapkan dengan
lisan. Bisa juga dengan perkataan kita “Alhamdulillah”.
c.
Syukur dengan
anggota badan
Syukur jenis
ini dilakukan dengan melaksanakan amal shaleh. Sebagaimana pesan Al Quran
kepada setiap orang yang telah mencapai umur empat puluh tahun,
Kami
perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya,
ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah
(pula). mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga
apabila Dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa:
"Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah
Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat
amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi
kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan
Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang berserah diri". (Al Ahqaf: 15)
Dari ayat ini
kita mendapatkan makna syukur dengan anggota badan, yaitu dengan beramal saleh.
Namun ibadah shalat sangat luar biasa. Ia mencakup tiga aspek syukur sekaligus.
Syukur hati dalam shalat terdapat pada keikhlasan dan kekhusyu’an. Syukur lisan
dengan membaca ayat-ayat Al Quran dan doa-doa dalam shalat. Sedangkan syukur
dengan anggota badan dalam shalat ketika orang ruku’ dan sujud ataupun
gerakan-gerakan lain yang melibatkan anggota badan.
Berarti menjaga
shalat merupakan jalan menuju kesyukuran kepada Allah SWT, dan mewakili tiga
jenis syukur tersebut. Sehingga orang yang meninggalkan shalat sama halnya
dengan tidak bersyukur kepada Allah dan meninggalkan syukur dengan hati, syukur
dengan lisan dan syukur dengan anggota badan yang terhimpun dalam shalat.
2.
Manfaat syukur
Masih dalam
kitab yang sama, Syekh Muhammad Shalih Al Munajjid menyebutkan beberapa manfaat
dari rasa syukur antara lain,
a.
Selamat dari
azab Allah
Allah SWT telah
menjelaskan dalam Al Quran bahwa azab-Nya itu tidak akan ditimpakan kepada
hamba-Nya kalau mereka bersyukur dan beriman kepada-Nya. Sebagaimana dalam
surat An Nisa ayat 147,
Mengapa Allah
akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman ? dan Allah adalah Maha
Mensyukuri[370] lagi Maha mengetahui.(An Nisa: 147)
b.
Ridha Allah SWT
Allah SWT akan
meridhai orang yang bersyukur kepada-Nya. Hal ini sesuai dengan hadits
Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu anhu, bahwa
Rasulullah SAW bersabda,
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ،
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى
عَنْ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الْأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ
الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا
Dari Anas bin
Malik dia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
'Sesungguhnya Allah Ta'ala sangat suka kepada hamba-Nya yang mengucapkan tahmid
(Alhamdulillah) sesudah makan dan minum." (h.r Muslim)
c.
Mendapat anugerah
khusus berupa hidayah
Allah telah
mengabarkan bahwa ahli syukur akan dikhususkan Allah dengan hidayah-Nya. Hal
ini termaktub dalam Al Quran surat Al An’am ayat 53,
dan Demikianlah
telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang kaya) dengan sebahagian mereka
(orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang Kaya itu) berkata:
"Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah Allah
kepada mereka?" (Allah berfirman): "Tidakkah Allah lebih mengetahui
tentang orang-orang yang bersyukur (kepadaNya)?"(Al An’aam: 53)
Anugerah khusus
ini diberikan Allah kepada hamba-hamba-nya yang bersyukur. Maka seorang muslim
sejati adalah mereka yang berlomba untuk mendapatkan anugerah itu dengan
memperbanyak bersyukur atas nikmat yang Allah berikan bukan untuk mengeluh atas
nikmat yang belum diberikan.
d.
Penambahan
Nikmat
Allah akan
menambah nikmat orang yang selalu bersyukur kepada-Nya. Sebagaimana firman
Allah dalam surat Ibrahim ayat 7,
Dan (ingatlah
juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur,
pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari
(nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".(Ibrahim:7)
Itulah manfaat dari syukur, dapat menyebabkan
bertambahnya nikmat. Dan yang terpenting dari semua itu adalah nikmat
diselamatkannya sang ahli syukur dari api neraka. Maka orang muslim sejati yang
mengharapkan rahmat Tuhannya dan yang takut dari azab-Nya seharusnya ia menjadi
hamba yang bersyukur. Bahkan Rasulullah SAW pun seorang nabi yang telah
diampuni dosanya tetaplah senantiasa meningkatkan amal ibadahnya sebagai rasa
syukur kepada Allah SWT.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar