“Demi
yang jiwaku berada di genggaman-Nya”, sabda Rasulullah SAW ketika itu, “kalian
tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Dan kalian tidak akan beriman
hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukan satu hal yang jika
kalian lakukan maka kalian akan saling mencintai. Sebarkan salam di antara
kalian” (h.r Muslim, dari Abu Hurairah).
At tahaabbu fillaah. Saling
mencintai karena Allah. Adalah bukti sejatinya iman seseorang. Terlihat dari
hadits itu perkataan Rasulullah SAW, “dan kalian tidak akan beriman hingga
kalian saling mencintai.” Iman menuntut adanya cinta. Iman tidak hanya sebatas
ritual; syahadat, sholat, puasa, zakat dan haji. Tapi iman lebih luas dari itu.
Iman adalah cinta. Iman adalah kasih sayang. Iman juga adalah persaudaraan.
Tidak cinta berarti tidak sempurna iman. Tidak berkasih sayang berarti iman
belum terpahami. Begitu juga dengan persaudaraan. Ia merupakan bukti hadirnya
iman dalam dada.
عَنْ أَبِيْ حَمْزَةَ
أَنَسِ بْنِ مَالِكِ رضي الله عنه خَدِمِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ
لِنَفْسِهِ
Tidaklah beriman seseorang di antara kalian hingga ia
mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya (h.r Bukhari &
Muslim)
Cinta kepada sesama layaknya cinta kepada diri sendiri.
Tidak menyakiti sebagaimana kita tidak mau disakiti. Menolong sebagaimana kita
ingin ditolong. Memperlakukan orang lain dengan baik sebagaimana kita ingin
diperlakukan dengan baik. Itulah makna yang layak ditebar. Itulah makna cinta
itu. Menggema saat pesonanya tertebar. Menggelegar mengguncang relung-relung
jiwa. Melembutkan hati yang membatu. Itulah cinta. Sebagai bumbu dalam hubungan
antar sesama. Sebagai bukti iman dalam dada.
Wahai jiwa perindu surga. Tebarlah pesona cinta di bumi,
maka mimbar cahaya di surga kelak akan jadi milikmu. Dan dirimu akan
menyaksikan para nabi dan para syuhada iri dengan mimbar-mimbar itu.
Wahai para penebar cinta itu, simaklah tutur Baginda
kita, Rasulullah SAW yang diceritakan oleh Imam Tirmidzi,
قَالَ اللهُ عَزَّ
وَجَلَّ : اَلْمُتَحَابُّوْنَ فِي جَلَالِي لَهُمْ مَنَابِرُ مِنْ نُوْرٍ
يَغْبِتُهُمُ النَّبِيُّوْنَ وَالشُّهَدَاءُ
Allah Azza Wa Jalla berfirman, “Orang-orang yang saling
mencintai karena Aku bagi mereka mimbar-mimbar dari cahaya, para nabi dan
syuhada iri kepada mereka.” (h.r Tirmidzi dari Mu’adz bin Jabal)
Lihatlah mimbar-mimbar cahaya itu. Para nabi ingin
mendapatkannya. Para syuhada pun demikian. Itulah cinta mereka. Cinta karena
Allah. Mereka bertemu saling sapa. Mereka bersua saling salam. Itulah bumbu
cinta yang tersebarkan. Dengan bumbu itu cinta terasa sedap. Kalaupun mereka
berpisah tetaplah karena Allah tujuannya. Berjauhan namun untaian kata-kata
cinta dalam doa terlantunkan. Saat itulah sang utusan dari langit berseru, “dan
bagimu juga sesuai apa yang kau pinta untuknya.” Itulah doa yang terucap meski
berjauhan.
إِنَّ دَعْوَةَ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ مُسْتَجَابَةٌ
لِأَخِيْهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ، كُلَّمَا دَعَا
لِإَخِيْهِ بِخَيْرٍ قَالَ: آمِيْن، وَلَكَ بِمِثْلٍ
Sungguh doa seseorang kepada saudaranya tanpa
sepengetahuannya itu mustajab, di atas kepalanya ada malaikat, setiap kali dia
mendoakan kebaikan untuk saudaranya, (malaikat itu) berkata: Amin, dan bagimu
seperti apa yang kamu minta (h.r Bukhari, dari Shafwan bin Abdullah bin
Shafwan).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar