Hal
ini berdasarkan firman Allah yang berkaitan dengan kisah Qarun di surat Al
Qasas
Dan carilah
pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat,
dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi (Al Qashash:
77)
Ayat ini menjelaskan kepada kita tentang pentingnya keseimbangan
dalam hidup. Seimbang antara perkara akhirat dan perkara dunia. Lebih
mementingkan akhirat namun tidak melupakan bagian kenikmatan di dunia. Seimbang
antara ibadah dan mencari penghidupan. Tidak cenderung kepada perkara akhirat
saja dan juga tidak cenderung kepada perkara dunia semata. Akan tetapi lebih
mementingkan akhirat ketimbang dunia, dan tidak menjadikan dunia sebagai
cita-cita tertinggi.
Orang muslim berbeda dengan Nasrani yang lebih mementingkan ibadah
di gereja sampai-sampai tidak menikah. Dan juga berbeda dengan Yahudi yang
lebih cenderung menyibukkan diri dengan mencari kehidupan dunia dan tidak
beribadah.
Orang muslim sejati adalah yang mampu menyeimbangkan antara perkara
dunia dan akhirat. Dan hanya menjadikan dunia ini sebagai ladang untuk menanam
kebaikan yang nantinya akan dipanen di akhirat kelak. Maka setiap pekerjaan
seorang muslim seharusnya lebih ditujukan untuk mendapat derajat yang tinggi di
akhirat, yaitu surga firdaus yang tertinggi.
1.
Keseimbangan semesta
Allah Azza Wa Jalla telah menegaskan dalam Al Quran surat Yasin
ayat 40,
Tidaklah
mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului
siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya. (Yasin: 40)
Dari zahir ayat ini kita bisa mengetahui bahwa bulan tidak bisa
dikejar matahari dan malam juga tidak mendahului siang. Begitu pula dengan
bintang-gemintang dan benda-benda langit lainnya yang beredar di garis edarnya
tanpa saling mendahului. Semua berjalan teratur tidak bertabrakan satu dengan
lainnya sampai hari ini. Itu karena Allah SWT telah menciptakan alam semesta
dengan sebaik-baik penciptaan. Allah yang telah menciptakannya dan
menjadikannya seimbang. Sehingga keseimbangan merupakan sunnah Ilahiah.
Allah juga tidak menjadikan malam terus-menerus sampai hari kiamat.
Dan juga tidak menjadikan siang secara terus-menerus sampai bumi ini hancur.
Agar manusia dan seluruh makhluk di bumi bisa hidup. Sebagaimana dalam Al
Quran,
Katakanlah:
"Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus
menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan
sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?"
Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan
untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah
yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka
apakah kamu tidak memperhatikan?"
Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya
kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari
karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.
Ayat ini merupakan
salah satu bukti tentang keseimbangan di alam semesta. Maka keseimbangan itu
merupakan rahmat Allah kepada seluruh makhluk di alam ini.
2.
Seimbang antara ruhiah dan materi
Tidak diragukan lagi bahwa manusia terdiri atas dua unsur; unsur
ruh dan unsur jasad atau materi. Dimana kedua unsur ini harus dipenuhi
kebutuhannya dengan agama dan dunia. Kebutuhan ruh manusia adalah dengan
memperbanyak ibadah, dan di saat yang sama juga jasadnya membutuhkan makanan
dan minuman, dan juga butuh olahraga agar sehat. Ini juga bentuk lain dari
keseimbangan.
Namun kenyataannya banyak yang tidak terlalu memperhatikan
keseimbangan ini. Di antara mereka ada yang lebih mementingkan materi dan
mengajak manusia untuk berlomba memenuhi kebutuhan materinya, dan juga tidak
beriman pada yang gaib. Sebagaimana Allah mengabarkan perihal mereka dalam
surat Al An’am ayat 29,
Dan
tentu mereka akan mengatakan (pula), “Hidup hanyalah di dunia ini, dan kita
tidak akan dibangkitkan.”(Al An’am: 29)
Dan
firman-Nya di ayat yang lain,
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya
sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah
mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas
penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah
(membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?
Dan
mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia
saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain
masa", dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu,
mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.
(Al Jatsiyah: 23-24)
Begitulah kepercayaan orang materialis. Bagi mereka kehidupan itu
hanyalah di dunia saja. Tidak ada kehidupan di akhirat. Padahal menurut
kepercayaan orang Islam selain ada kehidupan di dunia, ada juga kehidupan abadi
di akhirat. Sehingga seorang muslim di tuntut untuk seimbang dalam memahami
kehidupan dunia yang fana ini dan dalam memahami kehidupan akhirat yang kekal.
Keyakinan akan kehidupan sesudah kematian akan meredam rasa
kesombongan yang disebabkan banyaknya kenikmatan yang dimiliki di dunia. Harta,
jabatan, dan istri beserta anak-anak hanyalah titipan yang nantinya suatu saat
akan berpisah dengan kita. Sehingga semua kenikmatan itu tidak layak menjadikan
kita sombong.
Diantara manusia juga ada yang memandang dunia dengan sebelah mata.
Mereka mengharamkan keindahan-keindahan dunia atas diri mereka. Bagi mereka
dunia adalah musuh yang harus dijauhi atau dihancurkan. Mereka lebih fokus
beribadah saja tanpa harus berusaha mencari penghidupan.
Bagi orang Islam, mengutamakan dunia maupun meninggalkannya sama
sekali bukan merupakan suatu kebajikan karena orang Islam dituntut untuk
berlaku seimbang antara kehidupan keduanya.
Maka sebagai muslim sejati harus memperhatikan perihal keseimbangan
ini agar tidak terjerumus pada kesalahan-kesalahan agama lain yang lebih
memperhatikan kehidupan dunia dan melupakan akhirat dan agama yang cenderung
menafikan usaha-usaha di dunia dan hanya fokus untuk beribadah saja. Wallaahu
a’lam bi ash shawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar