Rabu, 18 November 2015

Tawazun, namun dahulukan akhirat



Hal ini berdasarkan firman Allah yang berkaitan dengan kisah Qarun di surat Al Qasas

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi (Al Qashash: 77)

   Ayat ini menjelaskan kepada kita tentang pentingnya keseimbangan dalam hidup. Seimbang antara perkara akhirat dan perkara dunia. Lebih mementingkan akhirat namun tidak melupakan bagian kenikmatan di dunia. Seimbang antara ibadah dan mencari penghidupan. Tidak cenderung kepada perkara akhirat saja dan juga tidak cenderung kepada perkara dunia semata. Akan tetapi lebih mementingkan akhirat ketimbang dunia, dan tidak menjadikan dunia sebagai cita-cita tertinggi.
Orang muslim berbeda dengan Nasrani yang lebih mementingkan ibadah di gereja sampai-sampai tidak menikah. Dan juga berbeda dengan Yahudi yang lebih cenderung menyibukkan diri dengan mencari kehidupan dunia dan tidak beribadah.
Orang muslim sejati adalah yang mampu menyeimbangkan antara perkara dunia dan akhirat. Dan hanya menjadikan dunia ini sebagai ladang untuk menanam kebaikan yang nantinya akan dipanen di akhirat kelak. Maka setiap pekerjaan seorang muslim seharusnya lebih ditujukan untuk mendapat derajat yang tinggi di akhirat, yaitu surga firdaus yang tertinggi.

1.      Keseimbangan semesta

Allah Azza Wa Jalla telah menegaskan dalam Al Quran surat Yasin ayat 40,

ŸTidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya. (Yasin: 40)

Dari zahir ayat ini kita bisa mengetahui bahwa bulan tidak bisa dikejar matahari dan malam juga tidak mendahului siang. Begitu pula dengan bintang-gemintang dan benda-benda langit lainnya yang beredar di garis edarnya tanpa saling mendahului. Semua berjalan teratur tidak bertabrakan satu dengan lainnya sampai hari ini. Itu karena Allah SWT telah menciptakan alam semesta dengan sebaik-baik penciptaan. Allah yang telah menciptakannya dan menjadikannya seimbang. Sehingga keseimbangan merupakan sunnah Ilahiah.
Allah juga tidak menjadikan malam terus-menerus sampai hari kiamat. Dan juga tidak menjadikan siang secara terus-menerus sampai bumi ini hancur. Agar manusia dan seluruh makhluk di bumi bisa hidup. Sebagaimana dalam Al Quran,

Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?"
Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?"
Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.

            Ayat ini merupakan salah satu bukti tentang keseimbangan di alam semesta. Maka keseimbangan itu merupakan rahmat Allah kepada seluruh makhluk di alam ini.

2.      Seimbang antara ruhiah dan materi

Tidak diragukan lagi bahwa manusia terdiri atas dua unsur; unsur ruh dan unsur jasad atau materi. Dimana kedua unsur ini harus dipenuhi kebutuhannya dengan agama dan dunia. Kebutuhan ruh manusia adalah dengan memperbanyak ibadah, dan di saat yang sama juga jasadnya membutuhkan makanan dan minuman, dan juga butuh olahraga agar sehat. Ini juga bentuk lain dari keseimbangan.
Namun kenyataannya banyak yang tidak terlalu memperhatikan keseimbangan ini. Di antara mereka ada yang lebih mementingkan materi dan mengajak manusia untuk berlomba memenuhi kebutuhan materinya, dan juga tidak beriman pada yang gaib. Sebagaimana Allah mengabarkan perihal mereka dalam surat Al An’am ayat 29,

Dan tentu mereka akan mengatakan (pula), “Hidup hanyalah di dunia ini, dan kita tidak akan dibangkitkan.”(Al An’am: 29) 

Dan firman-Nya di ayat yang lain,

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?
   Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa", dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. (Al Jatsiyah: 23-24)

Begitulah kepercayaan orang materialis. Bagi mereka kehidupan itu hanyalah di dunia saja. Tidak ada kehidupan di akhirat. Padahal menurut kepercayaan orang Islam selain ada kehidupan di dunia, ada juga kehidupan abadi di akhirat. Sehingga seorang muslim di tuntut untuk seimbang dalam memahami kehidupan dunia yang fana ini dan dalam memahami kehidupan akhirat yang kekal.
Keyakinan akan kehidupan sesudah kematian akan meredam rasa kesombongan yang disebabkan banyaknya kenikmatan yang dimiliki di dunia. Harta, jabatan, dan istri beserta anak-anak hanyalah titipan yang nantinya suatu saat akan berpisah dengan kita. Sehingga semua kenikmatan itu tidak layak menjadikan kita sombong.
Diantara manusia juga ada yang memandang dunia dengan sebelah mata. Mereka mengharamkan keindahan-keindahan dunia atas diri mereka. Bagi mereka dunia adalah musuh yang harus dijauhi atau dihancurkan. Mereka lebih fokus beribadah saja tanpa harus berusaha mencari penghidupan.
Bagi orang Islam, mengutamakan dunia maupun meninggalkannya sama sekali bukan merupakan suatu kebajikan karena orang Islam dituntut untuk berlaku seimbang antara kehidupan keduanya.
Maka sebagai muslim sejati harus memperhatikan perihal keseimbangan ini agar tidak terjerumus pada kesalahan-kesalahan agama lain yang lebih memperhatikan kehidupan dunia dan melupakan akhirat dan agama yang cenderung menafikan usaha-usaha di dunia dan hanya fokus untuk beribadah saja. Wallaahu a’lam bi ash shawab.











Tidak ada komentar:

Posting Komentar