Dalam surat Al
Qasas yang menceritakan perihal Qarun, tepatnya pada potongan ayat ke 78, saya
berpendapat bahwa Qarun ini tidak mengakui bahwa karunia itu hanya milik Allah
semata. Sebagaimana tergambar dari ayat berikut ini,
Karun berkata:
"Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada
padaku"...(Al Qasas: 78)
Dalam ayat ini
jelaslah bahwa Qarun itu tidak mengakui bahwa karunia itu dari Allah. Ia lupa
bahwa Allah telah memberinya ilmu dan pengalaman dalam mencari karunia-Nya yang
melimpah ruah di semesta ini. Dia mengaku hanya karena kepintarannya dalam
mencari penghidupan sehingga hartanya menjadi banyak dan bertamba banyak.
Dan kisah ini
menjadi pelajaran bagi kita semua. Bahwa kita harus mengakui bahwa karunia itu
ada karena Allah yang memberikan karunia itu. Semua kepintaran yang dimiliki
harus diyakini bahwa itu karena pemberian Allah, sehingga ujung-ujungnya bahwa
Allah semata yang memberikan rezeki dan karunia-Nya kepada hamba-hamba-Nya.
Namun kalau
kita melihat realita yang ada, banyak orang kaya yang tidak mau menyedekahkan
hartanya di jalan Allah. Mereka justru menjadi sombong dengan banyaknya harta. Bahkan
mereka melarang orang-orang untuk bersedekah, entah larangan itu dalam bentuk
ejekan terhadap orang yang mau
bersedekah maupun dengan cara lainnya yang menghambat orang bersedekah. Dan
yang lebih parah lagi adalah mereka tidak mau mengeluarkan zakat padahal mereka
orang Islam.
Oleh karena
itu, Allah SWT telah memberikan peringatan keras kepada orang-orang terdahulu
bahwa karunia itu hanya milik Allah semata. Allah yang memberikan karunia,
sehingga dengannya kita tidak termasuk orang-orang yang merugi. Hal ini sejalan
dengan firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 64,
kemudian kamu
berpaling setelah (adanya perjanjian) itu, Maka kalau tidak ada karunia Allah
dan rahmatNya atasmu, niscaya kamu tergolong orang yang rugi. (Al Baqarah: 64)
Begitulah
dahsyatnya karunia Allah, dapat menolong manusia dari kerugian. Jika kita
mengakuinya dengan lisan, maka akan terhindar dari rasa kesombongan. Kalau
mengakui karunia dengan tindakan, maka kita akan termasuk seorang hamba yang
taat kepada Allah SWT. Dan itulah karunia, pemiliknya hanya satu, Dialah Allah
Azza Wa Jalla.
Dalam ayat yang
lain Allah mempertegas lagi bahwa Dialah Pemberi Karunia kepada orang-orang
beriman,
Dan Sesungguhnya
Allah telah memenuhi janji-Nya kepadamu, ketika kamu membunuh mereka dengan
izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mengabaikan
perintah (Rasul) setelah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antara
kamu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada (pula) orang yang
menghendaki akhirat. kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk mengujimu,
tetapi Dia benar-benar telah memaafkan kamu. dan Allah mempunyai karunia (yang
dilimpahkan) atas orang orang yang beriman. (Ali Imran: 152).
Allah itu
memiliki karunia yang melimpah. Tidak terhitung dan tidak akan pernah ada yang
bisa menghitungnya meskipun jin dan manusia bersatu padu untuk menghitungnya. Pasti
akan sia-sia segala upaya mereka.
Dialah Allah
Sang Pemberi Karunia kepada orang-orang mukmin. Karena hanya Dialah Pemilik
karunia itu satu-satunya. Maka seorang mukmin sejati adalah yang memiliki
keyakinan bahwa karunia itu hanya milik Allah. Jika ia mendapat rezeki, maka
tidak melupakan Allah Sang Maha Pemberi rezeki. Dan tentu juga akan membagi hak
rezeki itu untuk kebutuhan orang lain, sehingga tidaklah sia-sia karunia yang
diberikan Allah kepadanya.
Banyak manfaat
dari meyakini bahwa karunia hanya milik Allah. Kita akan merasa bahwa harta itu
hanya titipan Allah sehingga tidak akan berlaku sombong atas titipan Allah yang
sewaktu-waktu akan diambil kembali oleh-Nya. Dan juga di saat memberikan
sedekah kepada orang lain kita tidak akan menyakiti penerima sedekah tersebut.
karena semua
karunia hanyalah milik Allah, maka tidak dibenarkan bagi seorang hamba untuk
merasa berjasa kepada orang lain. Misalnya perkataan orang, “kalau bukan karena
bantuanku, kau tidak akan sukses seperti sekarang ini”. Yang tampak dari luar
memang karena pertolongannya, akan tetapi pada hakekatnya Allah yang telah
memberikan pertolongan kepada orang itu sehingga menjadi sukses. Karena Allah
telah menegaskan dalam Al Quran bahwa kemenangan dan kesuksesan itu dari Allah
SWT, atas kehendak-Nya semata.
Dan Allah tidak
menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai khabar gembira bagi
(kemenangan)mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. Dan kemenanganmu itu
hanyalah dari Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Ali Imran: 126)
Dan di ayat
lain lebih jelas bahwa Allah yang menggerakkan semuanya. Allah yang melempar di
saat kita melempar.
Maka (yang
sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh
mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah
yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk
memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik.
Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (Al Anfal: 17)
Begitulah
hakekat pertolongan. Allah yang memberikannya kepada siapa saja yang
dikehendaki-Nya. Semua karunia itu dari Allah, bukan dari yang lain. Kita juga
tidak boleh merasa berjasa kepada orang lain, karena Allah-lah yang telah
menghendaki sehingga orang menjadi sukses. Meskipun demikian, kita tetap tidak
bisa meninggalkan dan mengabaikan usaha-usaha manusiawi dari diri kita. Karena
kemenangan itu sudah ada. Kesuksesan itu sudah menjadi jatah tiap orang, hanya
tergantung apakah kita mau menjemput kemenangan itu atau malah berdiam diri
pasrah dengan keadaan. Wallaahu a’lam bis shawab.
Ya Allah kami berlindung dari jelmaan sifat qarun yg tdk mengakui karuniaNya...
BalasHapusAstagfirullah....
Tulisannya sangat mencerahkan ruh yg lagu butuh sentuhan