Rabu, 18 November 2015

Karunia hanyalah Milik Allah semata



Dalam surat Al Qasas yang menceritakan perihal Qarun, tepatnya pada potongan ayat ke 78, saya berpendapat bahwa Qarun ini tidak mengakui bahwa karunia itu hanya milik Allah semata. Sebagaimana tergambar dari ayat berikut ini,
Karun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku"...(Al Qasas: 78)
Dalam ayat ini jelaslah bahwa Qarun itu tidak mengakui bahwa karunia itu dari Allah. Ia lupa bahwa Allah telah memberinya ilmu dan pengalaman dalam mencari karunia-Nya yang melimpah ruah di semesta ini. Dia mengaku hanya karena kepintarannya dalam mencari penghidupan sehingga hartanya menjadi banyak dan bertamba banyak.
Dan kisah ini menjadi pelajaran bagi kita semua. Bahwa kita harus mengakui bahwa karunia itu ada karena Allah yang memberikan karunia itu. Semua kepintaran yang dimiliki harus diyakini bahwa itu karena pemberian Allah, sehingga ujung-ujungnya bahwa Allah semata yang memberikan rezeki dan karunia-Nya kepada hamba-hamba-Nya.
Namun kalau kita melihat realita yang ada, banyak orang kaya yang tidak mau menyedekahkan hartanya di jalan Allah. Mereka justru menjadi sombong dengan banyaknya harta. Bahkan mereka melarang orang-orang untuk bersedekah, entah larangan itu dalam bentuk ejekan terhadap  orang yang mau bersedekah maupun dengan cara lainnya yang menghambat orang bersedekah. Dan yang lebih parah lagi adalah mereka tidak mau mengeluarkan zakat padahal mereka orang Islam.
Oleh karena itu, Allah SWT telah memberikan peringatan keras kepada orang-orang terdahulu bahwa karunia itu hanya milik Allah semata. Allah yang memberikan karunia, sehingga dengannya kita tidak termasuk orang-orang yang merugi. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 64,
 kemudian kamu berpaling setelah (adanya perjanjian) itu, Maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmatNya atasmu, niscaya kamu tergolong orang yang rugi. (Al Baqarah: 64)
Begitulah dahsyatnya karunia Allah, dapat menolong manusia dari kerugian. Jika kita mengakuinya dengan lisan, maka akan terhindar dari rasa kesombongan. Kalau mengakui karunia dengan tindakan, maka kita akan termasuk seorang hamba yang taat kepada Allah SWT. Dan itulah karunia, pemiliknya hanya satu, Dialah Allah Azza Wa Jalla.
Dalam ayat yang lain Allah mempertegas lagi bahwa Dialah Pemberi Karunia kepada orang-orang beriman,
Dan Sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepadamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mengabaikan perintah (Rasul) setelah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antara kamu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada (pula) orang yang menghendaki akhirat. kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk mengujimu, tetapi Dia benar-benar telah memaafkan kamu. dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang orang yang beriman. (Ali Imran: 152).
Allah itu memiliki karunia yang melimpah. Tidak terhitung dan tidak akan pernah ada yang bisa menghitungnya meskipun jin dan manusia bersatu padu untuk menghitungnya. Pasti akan sia-sia segala upaya mereka.
Dialah Allah Sang Pemberi Karunia kepada orang-orang mukmin. Karena hanya Dialah Pemilik karunia itu satu-satunya. Maka seorang mukmin sejati adalah yang memiliki keyakinan bahwa karunia itu hanya milik Allah. Jika ia mendapat rezeki, maka tidak melupakan Allah Sang Maha Pemberi rezeki. Dan tentu juga akan membagi hak rezeki itu untuk kebutuhan orang lain, sehingga tidaklah sia-sia karunia yang diberikan Allah kepadanya.
Banyak manfaat dari meyakini bahwa karunia hanya milik Allah. Kita akan merasa bahwa harta itu hanya titipan Allah sehingga tidak akan berlaku sombong atas titipan Allah yang sewaktu-waktu akan diambil kembali oleh-Nya. Dan juga di saat memberikan sedekah kepada orang lain kita tidak akan menyakiti penerima sedekah tersebut.
karena semua karunia hanyalah milik Allah, maka tidak dibenarkan bagi seorang hamba untuk merasa berjasa kepada orang lain. Misalnya perkataan orang, “kalau bukan karena bantuanku, kau tidak akan sukses seperti sekarang ini”. Yang tampak dari luar memang karena pertolongannya, akan tetapi pada hakekatnya Allah yang telah memberikan pertolongan kepada orang itu sehingga menjadi sukses. Karena Allah telah menegaskan dalam Al Quran bahwa kemenangan dan kesuksesan itu dari Allah SWT, atas kehendak-Nya semata.
Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai khabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Ali Imran: 126)
Dan di ayat lain lebih jelas bahwa Allah yang menggerakkan semuanya. Allah yang melempar di saat kita melempar.
Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (Al Anfal: 17)
Begitulah hakekat pertolongan. Allah yang memberikannya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Semua karunia itu dari Allah, bukan dari yang lain. Kita juga tidak boleh merasa berjasa kepada orang lain, karena Allah-lah yang telah menghendaki sehingga orang menjadi sukses. Meskipun demikian, kita tetap tidak bisa meninggalkan dan mengabaikan usaha-usaha manusiawi dari diri kita. Karena kemenangan itu sudah ada. Kesuksesan itu sudah menjadi jatah tiap orang, hanya tergantung apakah kita mau menjemput kemenangan itu atau malah berdiam diri pasrah dengan keadaan. Wallaahu a’lam bis shawab.












1 komentar:

  1. Ya Allah kami berlindung dari jelmaan sifat qarun yg tdk mengakui karuniaNya...
    Astagfirullah....
    Tulisannya sangat mencerahkan ruh yg lagu butuh sentuhan

    BalasHapus