Rabu, 18 November 2015

Wahai mukmin, kuasailah harta!



Sebagaimana penjelasan sebelumnya, bahwa harta memiliki manfaat dan mudharat, bermanfaat maupun berbahaya itu kembali kepada siapa yang memegangnya dan memilikinya. Jika pemilik harta itu adalah orang yang beriman kepada Allah dan hari pembalasan, maka harta akan bermanfaat bagi kemaslahatan umat, tetapi sebaliknya kalau pemilik harta itu tidak beriman kepada Allah dan tidak meyakini balasan di akhirat nanti, maka keberadaan harta ditangannya hanya akan menyengsarakan orang lain. Penggunaannya justru dipenuhi dengan kerusakan dan kepoya-poyaan.
Allah SWT telah melarang kita dari berbuat kerusakan di muka bumi tanpa hak, sebagaimana tertuang dalam surat Al Qasas ayat 77,
Ÿ“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al Qasas: 77)
Sedangkan yang termasuk dari kerusakan adalah mempergunakan harta di jalan yang dilarang Allah. Untuk membeli obat-obatan terlarang misalnya, atau membiayai musuh untuk memerangi kaum muslimin, dan masih banyak lagi.
Oleh sebab itu, maka harta penting dimiliki oleh orang-orang beriman untuk menjaga umat manusia dari kerusakan. Karena seorang muslim yang hartawan dan memiliki iman yang kuat, ia tidak akan mungkin berbuat seperti Qarun tetapi ia akan menjadi seperti Abdurrahman bin Auf yang diridhai Allah. Qarun dan Abdurrahman bin Auf sama-sama memiliki harta, akan tetapi mereka berbeda dalam mempergunakan hartanya. Kalau Qarun menjadi sombong karena harta dan dibenamkan Allah bersama hartanya ke dalam bumi, sedangkan Abdurrahman bun Auf mempergunakan hartanya di jalan Allah sehingga diberkahi dalam hidupnya dan hartanya.
Itulah sebabnya mengapa harta itu harus dimiliki kaum muslimin. Karena betapa harta itu sangat berguna bagi kehidupan sosial umat. Bahkan pendidikan juga membutuhkan harta, maka pendidikan yang islami hanya akan berjalan kalau orang Islam memiliki harta untuk membangun  sekolah-sekolah Islam.
Sehingga menjadi wajib bagi kaum muslimin untuk berusaha mencari harta demi kemaslahatan umat dan untuk menjaga keberlangsungan ajaran agama Islam ini. Wallaahu a’lam bis shawab.



2 komentar:

  1. Gimana dengan orang orang yg zuhud dgn dunia abdullah?yg menafsirkan bahwa harta itu hnya akan menjadi neraka bg mereka shgga ada bbrp realita yg ana temui mereka sdh malas berusaha dgn dalih bhwa rezeki itu Allah yg atur smntr mrka tdk kerja tp lebih condong k akherat?

    BalasHapus
  2. Kalau Imam Hasan Al Bashri adalah orang yang kaya, tapi ia zuhud. Hartanya tidak menyilaukannya, beliau tetap mendahulukan akhirat, bahkan lebih mengutamakannya.
    Jadi zuhud itu, di saat kita tidak terlalaikan dengan apa saja yang kita miliki dari mengingat Allah,
    Allah juga mewajibkan kasbul halaal, mencari penghidupan yang halal, jadi yg terpenting adalah seimbang namun tetap mengutamakan akhirat,
    kayaknya ada judul postingan "Tawazun, namun dahulukan akhirat", mungkin bisa sedikit menjawab pertanyaan tersebut

    BalasHapus