Sebagaimana
penjelasan sebelumnya, bahwa harta memiliki manfaat dan mudharat, bermanfaat
maupun berbahaya itu kembali kepada siapa yang memegangnya dan memilikinya.
Jika pemilik harta itu adalah orang yang beriman kepada Allah dan hari
pembalasan, maka harta akan bermanfaat bagi kemaslahatan umat, tetapi
sebaliknya kalau pemilik harta itu tidak beriman kepada Allah dan tidak
meyakini balasan di akhirat nanti, maka keberadaan harta ditangannya hanya akan
menyengsarakan orang lain. Penggunaannya justru dipenuhi dengan kerusakan dan
kepoya-poyaan.
Allah SWT telah
melarang kita dari berbuat kerusakan di muka bumi tanpa hak, sebagaimana
tertuang dalam surat Al Qasas ayat 77,
“Dan janganlah kamu
berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang
yang berbuat kerusakan.” (Al Qasas: 77)
Sedangkan yang termasuk
dari kerusakan adalah mempergunakan harta di jalan yang dilarang Allah. Untuk
membeli obat-obatan terlarang misalnya, atau membiayai musuh untuk memerangi
kaum muslimin, dan masih banyak lagi.
Oleh sebab itu,
maka harta penting dimiliki oleh orang-orang beriman untuk menjaga umat manusia
dari kerusakan. Karena seorang muslim yang hartawan dan memiliki iman yang
kuat, ia tidak akan mungkin berbuat seperti Qarun tetapi ia akan menjadi
seperti Abdurrahman bin Auf yang diridhai Allah. Qarun dan Abdurrahman bin Auf
sama-sama memiliki harta, akan tetapi mereka berbeda dalam mempergunakan
hartanya. Kalau Qarun menjadi sombong karena harta dan dibenamkan Allah bersama
hartanya ke dalam bumi, sedangkan Abdurrahman bun Auf mempergunakan hartanya di
jalan Allah sehingga diberkahi dalam hidupnya dan hartanya.
Itulah sebabnya
mengapa harta itu harus dimiliki kaum muslimin. Karena betapa harta itu sangat
berguna bagi kehidupan sosial umat. Bahkan pendidikan juga membutuhkan harta,
maka pendidikan yang islami hanya akan berjalan kalau orang Islam memiliki
harta untuk membangun sekolah-sekolah
Islam.
Sehingga
menjadi wajib bagi kaum muslimin untuk berusaha mencari harta demi kemaslahatan
umat dan untuk menjaga keberlangsungan ajaran agama Islam ini. Wallaahu
a’lam bis shawab.
Gimana dengan orang orang yg zuhud dgn dunia abdullah?yg menafsirkan bahwa harta itu hnya akan menjadi neraka bg mereka shgga ada bbrp realita yg ana temui mereka sdh malas berusaha dgn dalih bhwa rezeki itu Allah yg atur smntr mrka tdk kerja tp lebih condong k akherat?
BalasHapusKalau Imam Hasan Al Bashri adalah orang yang kaya, tapi ia zuhud. Hartanya tidak menyilaukannya, beliau tetap mendahulukan akhirat, bahkan lebih mengutamakannya.
BalasHapusJadi zuhud itu, di saat kita tidak terlalaikan dengan apa saja yang kita miliki dari mengingat Allah,
Allah juga mewajibkan kasbul halaal, mencari penghidupan yang halal, jadi yg terpenting adalah seimbang namun tetap mengutamakan akhirat,
kayaknya ada judul postingan "Tawazun, namun dahulukan akhirat", mungkin bisa sedikit menjawab pertanyaan tersebut